Memantau Kebohongan Elite Politik
Oleh : Bambang Soedjiartono
Eforia tentang wacana kebohongan elite politik meluncur dengan derasnya dari para elite politisi partai
dalam orasim kampanyenya di panggung pemilu yang sedang berlangsung saat ini. Kaum yang sangat disegani dalam kehidupan berpolitik dan bernegara, melantunkan syair dan lagu yang mendayu dan pop art dan memukau masyarakat marginal yang berhadir dalam hajatan kampanye terjadwal itu.
Tak ada lagi yang dikaji dalam etika berkampanye, antara sadar dan tak sadar elite politik dengan ketokohannya berupaya ”menghasut” masyarakat agar tak mempercayai elite lainnya. Pun sebaliknya, elite lain juga bertingkah pola yang sama dalam aktivitasnya.
Padahal, nyaris seluruh rakyat tahu kalau kaum elitis merupakan yang terbaik, terpilih dan terpandang dalam tatanan kehidupan bernegara dan berbangsa. Menjadi teladan dan panutan rakyat dalam sikap dan perilakunya di lingkungan kehidupan sosial dan politik. Apakah perilakunya sesuai dengan kehendak masyarakat atau rakyat tentunya ini semua bisa direalisir bila terjalin komunikasi yang esensial tanpa menunjukkan perbedaan yang mendasar dalam tataran pergaulannya. Menjadi yang terbaik tanpa perlu lagi mengumbar janji politik. Utamanya, saat detik menjelang 9 April ini, kaum elite selalu mengumbar senyum dan bermanis muka terhadap konstituennya.
Merenungkan sejenak aktivitas almarhum Ustadz Abdul Rahim dalam pemilu 2004, menjadi calon anggota DPD RI, sosoknya telah dianggap sebagai tauladan umat, beliau tak perlu kampanye mutlak dengan janji muluk. Cukup menyambangi majelis taklim, sudah mendulang perolehan suara jauh diatas target dan menjadi yang terbaik dalam menjalankan amar dan amanah yang diemban dipundaknya hingga akhir hayat. Beliau tentu merupakan tokoh langka, yang menjadi kaum elite politik, tapi kiprah dan kesehariannya tak berubah kehidupannya dan tetap menjadi kebanggaan pemilihnya.
Jelasnya, keteladanan Ustadz, sangat kontras dengan perilaku kaum elite politik terkini, umumnya dalam aksi menjelang hari ”H”nya pemilihan umum mendatang. Dengan rasa percaya diri tinggi, tanpa merubah pola perilaku dan etika moral, kaum ini berupaya mendekati rakyat dengan berbagai ragam cara agar bisa mendapatkan suara terbanyak. Harapan yang selama kurun waktu tak terpikirkan untuk mendulang suara akhirnya berlaku secara dadakan spontan. Karena tanpa merasa malu, untuk halusnya ”muka tembok”, tanpa malu-malu berupaya mendekatkan diri dan mengambil hati rakyat pemilihnya yang saat ini berada dalam posisi ambiguitas dan ambivalen.
Janji-Janji Muluk
Apalagi dalam tahapan kampanye ini, semua cara dan gaya dilakukan dalam rangka mencuri hati dengan harapan mendapatkan suara terbanyak. Manakala mereka bertemu dengan aspirannya, yang terjadi adalah selalu berusaha membuai rakyat dengan janji-janji muluk. Inilah yang tidak berubah dari para elite politik kita yang sudah berulangkali pemilu, tetap meniru moyangnya yang orde baru.
Sepertinya, bagi elite politik, menjadi hipokrit, lebih mulia daripada mengurus rakyat. Berbohong bagian dari hadist yang dipahami dan wajib dijalankan sekaligus dilakoni.
Perhatikanlah kalau anda memantau kampanye diberbagai lapangan dan dilakukan berbagai elite partai, cenderung hampir semuanya berbohong, berbual dan saling tuding. Makanya, tak heran kalau kita melihat beberapa kasus korupsi yang dilakukan legislator, muaranya saling tuding dan menampik sembari melupakan esensial kasus intinya.
Tak ayal kalau, Ketua Dewan Pembina Partai Golkar Surya Paloh dalam orasinya dihadapan pendukungnya, dengan tegas mengingatkan elite politik untuk tidak lagi membohongi rakyat dengan janji-janji muluk yang tidak sesuai antara kata dengan perbuatan. ”Kalau terus dibohongi rakyat akan marah,” katanya dalam kampanye terbuka hari pertama di Lapangan Mandailing Natal, Sumatera Utara, Selasa lalu, yang dihadiri ribuan kader partai berlambang pohon beringin.
Pengakuan yang berani dan menarik tentunya bagi seorang tokoh politik dan aktivis bangsa dalam mengungkapkan sejujurnya jatidiri para elite politik yang sesungguhnya sering dan senang sekali melakukan pembohongan publik. Walau pun sejatinya Surya juga tokoh elite politik. Apa yang menjadi harapan Surya Paloh tentunya harapan semua rakyat Indonesia yang minta dicerdaskan dan bukan pula untuk diperbudak dan dibodohi.
Urgensi makna dari semua ungkapan itu menegaskan dan menjelaskan kalau elite politik yang jujur, beriman dan bermoral harus menjadi teladan dalam perbuatan dan perilaku kehidupannya. Tidak ada lagi elite politik yang kita pantau secara kasat mata mengumbar kekayaan dan kepintaran semu nan palsu. Pada akhirnya saling tuding menuding dan saling hujat menghujat tanpa arah dan konsep. Mulai dari tudingan sama berkorupsi sampai saling menghujat dalam kampanye terbuka ini. Bukankah setelah itu mereka akan kembali duduk di lobi hotel sambil tertawa dan menyeringai, berceloteh dalam hatinya,” Nah, gua bodohi lu untuk lima tahun lagi”.
Manakala kaum elite politik berhadapan dengan rakyat dalam olah dan orasi pesta demokrasi, sangat urgensi partisipasi langsung rakyat untuk tidak lagi dibodohi, dan lebih jeli melihat kemunafikan elite politik dalam kampanye pemilu ini. Setidaknya, rakyat harus tahu apa aktivitas dan sumbangsih sebelumnya kepada bangsa dan negara, kemana dan dimana mereka berkiprah untuk itu selama ini. Dimana kepedulian mereka saat rakyat membutuhkan uluran tangan saat dalam sekarat kehidupannya. Kenapa saat ini para elite politik tetap sanggup menjual hati sampai menjual diri untuk kelanggengan kiprah politik hipokritnya. Disinilah dibutuhkan peran para tokoh setempat untuk tidak terimbas stimulus dari elite politik untuk jadi perpanjangan tangan dalam proses pembodohan masyarakatnya.
Akhirnya, harapan kita bersama, kaum elite politik dapat menghentikan kebohongan publik untuk memperdaya dan membodohi rakyat yang rela mengulur kocek dari jutaan hingga miliaran untuk mempertahankan kelanggengan hipokritnya. Dan kembali lagi menjalani rutinitas lobi-lobi di lobi hotel. Bukan menuduh eh menuding tapi itulah yang menjadi bahan pemberitaan dan contoh nyata kaum elite politik, ketika tersangka korupsi anggota DPR RI, Abdul Hadi Djamal ”bernyanyi” mengajak temannya harus senasib masuk penjara dengannya dan diperiksa KPK, yang mengatakan kalau mereka selalu berpindah hotel dan tempat dalam modusnya, dan saling menuding kelakuan sendiri.
Tentu saja, dengan semakin mendekatnya hajat pencontrengan tanggal 9 April mendatang, sebagai saran, jangan pilih elite politik yang hipokrit, cobalah mengenali dan menelisik jejak rekam kaum elite politik dan kiprahnya selama lima tahun lalu dan aktivitasnya di ruang publik dan ruang politik. Sesuaikah dengan kehendak hati dan aspirasi politik untuk perubahan kearah masa depan bangsa yang lebih baik. Kalau tidak, alangkah naifnyalah kita melakukan pembiaran kebodohan atas nama riuhnya pesta demokrasi untuk kembali negeri ini menjadi lebih terpuruk. Janganlah kita kembali melahirkan politisi koruptor dan politisi mabuk kepayang dengan status kehormatan tanpa berbuat nyata untuk rakyatnya. Setujukah anda??? ***
Penulis jurnalis dan kolumnis, tinggal di Medan ( bbsoed@yahoo.comThis e-mail address is being protected from spambots, you need JavaScript enabled to view it )
Selasa, 07 Juli 2009
Politik dan kekuasaan
Kekuasaan dimuka bumi ini tidak terlepas dari intrik dan politik .Dengan segala daya dan upaya dilakukan demi terengkuhnya kekuasaan.Seperti yang sedang terjadi di negara kita, menjelang diselenggarakannya pemilihan presiden berbagai manuver politik dilakukan untuk menyisihkan pesaingnya atau menjatuhkan image tokoh lainnya. Berbagai janji dan program diumbar sebebas-bebasnya untuk meraih simpati dan ujung-ujungnya perolehan suara yang banyak.
Para calon kandidat presiden beserta tim suksesnya berlomba meraih simpati rakyat dengan lebih mendekatkan diri dengan rakyat seolah-olah mereka mengerti dengan segenap hati keluhan dan penderitaan rakyat kecil.Tidakah rakyat ketahui bahwa setelah masuk ke dalam suatu sistem maka mereka cenderung mengikuti arus dan mencari aman.
Masalah yang lebih besar telah menghadang untuk segera diselesaikan, masalah yang menyangkut wong cilik akan menjadi prioritas nomor sekian.
Para calon kandidat presiden beserta tim suksesnya berlomba meraih simpati rakyat dengan lebih mendekatkan diri dengan rakyat seolah-olah mereka mengerti dengan segenap hati keluhan dan penderitaan rakyat kecil.Tidakah rakyat ketahui bahwa setelah masuk ke dalam suatu sistem maka mereka cenderung mengikuti arus dan mencari aman.
Masalah yang lebih besar telah menghadang untuk segera diselesaikan, masalah yang menyangkut wong cilik akan menjadi prioritas nomor sekian.
Langganan:
Postingan (Atom)
